Friday, April 30, 2010

Bagi jiwa-jiwa Yang Merasa Lelah & Bosan di Jalan ini

Nasehat Untuk Yang Merasa Lelah & Bosan di Jalan ini


Ikhwati fillah, mari kita renungkan fragmen berikut :
“Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif
dalam da'wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin
kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang
aneh-aneh...” Begitu keluh kesah seorang kader dakwah kepada
murobbinya di suatu malam.
Sang murobbi hanya terdiam,
mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. “Lalu, apa
yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu “?
sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.
“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini.
Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak Islami.
Juga dengan organisasi da'wah yang ana geluti ; kaku dan sering
mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih
baik sendiri saja..” jawab ikhwah itu.

Sang murobbi
termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot
matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah
diketahuinya sejak awal. “Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal
mengarungi lautan luas, kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya
banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau
kotoran manusia. Lalu, apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada
tujuan ?” Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad'u terdiam
berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam
melalui kiasan yang amat tepat.
“Apakah antum memilih untuk
terjun ke laut dan berenang sampai tujuan “? sang murobbi mencoba
memberi opsi. “Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa
senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut,
atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa
kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan ? Bagaimana bila ikan hiu
datang ? Darimana antum mendapat makan dan minum ? Bila malam datang,
bagaimana antum mengatasi hawa dingin ? serentetan
pertanyaan dihamparkan di hadapan sang ikhwan tersebut.

Tak ayal, sang ikhwan menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya
menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun
sang murobbi yang
dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan
keinginannya.
“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan
da'wah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah SWT ?” (
Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk.
Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan
itu ternyata mogok ? antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu
tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya ? Tanya sang murobbi
lagi.

Sang ikhwah tetap terdiam dalam
sesenggukkan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya …”
Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, Insya Allah ana akan tetap
istiqomah. Ana berda'wah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau
agar setiap kata-kata ana diperhatikan. . Biarlah yang lain dengan
urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam da'wah.
Dan hanya jalan ini saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan
janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi
pelebur dosa-dosa ana ..” sang mad'u berazzam di hadapan sang
murobbi yang
semakin dihormatinya.
Sang murobbi tersenyum. “Akhi, jama'ah ini adalah
jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak
kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang
mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan
untuk berda'wah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia
terbaik pilihan..” papar sang murabbi.
“ Bila ada satu-dua
kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi
perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa
manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata
antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap da'wah selama ini.
Karena di
mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka.
Futur, mundur,
kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk
akal. Apabila setiap
ketidaksepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah da'wah
ini dapat berjalan baik “? sambungnya panjang lebar.
Sang
mad'u termenung merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya memang
kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya. “Tapi,
bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi da'wah dengan kapasitas ana
yang lemah ini ?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.
“Siapa bilang kapasitas antum lemah ? Apakah Allah mewahyukan
kepada antum ? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak
ada yang bisa
menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain !” sahut sang murobbi.
“Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiyah dalam kebenaran,
kesabaran, dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam
organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang
beriman. Bila ada sebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan
bertaubatlah. Singkirkan segala ghibah antum terhadap saudara antum
sendiri. Dengan
itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya…”
Malam itu sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk
tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan da'wah.

Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan
biarkan asa itu hilang, dihempas gersangnya debu 'wahn'
yang begitu kencang menerpa. Biarkan amal-amal ini semua
menjadi saksi, sampai kita diberi satu dari dua kebaikan oleh ALLAH
SWT: kemenangan atau mati syahid.


Ikhwati fillah,
Jalan ini, seberat dan sesulit apapun itu, seorang
mukmin sejati akan senantiasa menikmati dan mencintainya. Dalam
menjalaninya, kita akan dapat merasakan manisnya jalan ini, rasa manis
yang akan memudahkan semua kesulitan, meringankan beban berat,
menabahkan kita untuk terus menapaki dan mendakinya, dan menjadikan
kita ridho terhadap-NYA, bahkan ketika melewati masa terpahit dan hari
terberat sekalipun.
kita akan selalu ingatkan siapa saja yang berniat mundur dari jalan ini :
"Sesungguhnya akibat dari pengunduran diri adalah keburukan. Apalagi
bagi orang yang
telah mengerti kebenaran lalu berpaling darinya. Bagi orang yang telah
merasakan manisnya kebenaran lalu tenggelam dalam kebatilan.
Sesungguhnya membatalkan janji kepada Allah termasuk dosa yg besar di
sisi ALlah dan hina di pandangan orang2 yg beriman.."
sesungguhnya kita akan menemui masa-masa sulit, masa-masa yg melelahkan, dan
berbagai ujian. Padahal kita tengah berada dan berjalan diatas jalan
kebenaran dan disibukkan berbagai aktifitas dakwah. Tapi kita meyakini
bahwa teguh diatas jalan ini dan sabar menghadapi berbagai, niscaya
kepedihan akan sirna, kelelahan akan hilang, dan yg tersisa bagi kita
adalah ganjaran dan pahala...
Kita selalu menyadari bahwa sesungguhnya amal islami
bukanlah aktifitas sesaat.. amal islami bukanlah aktifitas yg cukup
dikerjakan disaat kita memiliki waktu luang dan bisa ditinggalkan saat
kita sibuk. Sekali-kali tidak... Amal islami terlalu mulia dan agung.
Sesungguhnya celah tidak akan pernah tertutup... kekurangan tidak akan pernah
hilang, dan yang ma'ruf tidak akan pernah terwujud kecuali dengan
amal...
disinilah peran kita...wahai saudaraku semua....peran kita semua. Tentu saja,
kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami dan
diamalkan...
Kita paham dan sadar bahwa agama ini hanya akan tegak diatas pundak
orang-orang yang memiliki azzam yg kuat. Ia tidak akan tegak diatas
pundak orang-orang yg lemah dan suka berhura-hura, tidak akan pernah.
Tidak akan pernah tegak agama ini hanya dengan ragu, termangu menjalin mimpi
tanpa gerak maju...
Tidak akan pernah tegak agama ini tanpa kerja nyata, dan tercencang jeratan
angan hampa....
Ada nasehat yg luar biasa dari Ibnul Qayyim rahimahullah. .."Wahai orang
yang bersemangat banci..! ketahuilah, yang paling lemah di papan catur
adalah bidak. Namun jika ia bangkit, ia bisa berubah menjadi menteri,
bahkan 'ster'...
nasehat tersebut sangat mengena buat kehidupan kita... betapa kita
sering memiliki
semangat yang banci dalam mengemban dan menapaki jalan ini, bukan
semangat yg membaja... kita hanya mau aktif dalam 'zona nyaman'....
kita menjadi militan karena lingkungannua memang membentuk seperti
itu, tapi sebenarnya kita rapuh...kita sering dan mudah sekali
mengeluh dan
mengeluh, padahal kita belum mencoba berbuat sesuatu....
Semoga Allah merahmati orang yang telah mengucapkan kalimat berikut :" Wahai
orang yang meminang bidadari surga tetapi tidak memiliki sepeser pun
semangat, janganlah engkau bermimpi.... telah sirna manisnya masa muda
dan yang tersisa hanyalah kepahitan dan penyesalan.. ..

Jika Kesusahan adalah Hujan
dan Kebahagiaan adalah Mentari
Kita tetap membutuhkan keduanya
Untuk melihat indahnya Pelangi

Begitulah aku mengibaratkan UKHUWAH ini
Senantiasa saling melengkapi satu dengan lainnya
Dan tak ku nafikan jika ada kekurangan yg terjadi di dalamnya
Karena itulah ruang PEMAKLUMAN ini begitu terbuka luas untuknya
Dan
aku senantiasa belajar untuk dapat MEMAHAMI nya
semoga begitu juga denganmu ...


Saturday, April 24, 2010

~MaNiSnYa TaUbAt~

Bismillahirrahmanirrahim..

Seringkali hati bertanya, minda ligat berfikir, mengasak soalan bertalu-talu pada diri, mengapa manusia susah nak buat baik?

Mengapa segelintir manusia lebih suka memilih untuk buat jahat?

Kadang- kadang ingin saja ku temuramah mereka "terlibat dengan urusan sebegitu", ..

Kenapa jadi jahat? Tak takut Tuhan ke? Tak nak masuk syurga ke? Dah tak sayang keluarga?kenapa, mengapa, dan untuk apa...

Namun, hati ini masih sedar, mereka juga manusia, juga punya naluri, punya akal dan perasaan, juga punya nafsu, sama sepertiku..adalah tidak wajar untuk menghukum mereka seratus peratus.

Kadang-kadang soalan- soalanku dijawab secara tidak langsung oleh "mereka", terpapar di dada-dada akhbar, juga di majalah-majalah..

Jawab mereka,
"bukan kami tak nak jadi baik, kami nak..kami nak masuk syurga..tapi kami jahat..
alang-alang dah buat jahat, biar sampai masuk neraka"


"keluarga pun dah tak nak terima kami.masyarakat mula menyisihkan kami. kami hina di mata mereka.kami tak layak untuk berdiri satu barisan bersama pak imam, tak layak nak bersalaman dengan pak lebai"

"ayah dan mak dah tak nak tengok muka saya lagi. mereka malu atas perbuatan saya. kekasih saya lari meninggalkan saya dan anak yang saya kandungkan. mak tak nak mengaku saya ni anak dia. saya dah tak suci, saya dah tak ada apa-apa.."

Itu antara jawapan-jwapan daripada "mereka"..

Sebenarnya banyak lagi kisah-kisah sebegini yang dipaparkan untuk tatapan kita, untuk dijadikan teladan, bukannya ikutan..tapi, yang menghairankan aku, semakin banyak kisah sebegini didedahkan kepada masyarakat, maka masyarakat seharusnya sedar dan menjadikannya sebagai iktibar, memulakan langkah untuk mendidik anak-anak kecil yang masih bersih fitrahnya, memantapkan pendidikan bagi anak-anak yang sudah mulai dewasa, dengan pelbagai pengisian agama, agar tidak mengikut jejak langkah "mereka" itu.

Namun, apa yang berlaku adalah sebaliknya. Bermula dari kes yang kita anggap remeh-temeh sehinggalah kes yang membawa ke tali gantung, semuanya seakan dipandang ringan oleh masyarakat.

Malah mereka seakan berlumba-lumba, untuk mencari publisiti murahan, memenuhi dada-dada akhbar, gembira melihat wajahnya ditayangkan di kaca televisyen, tersenyum megah kerana dia dikenali ramai, namanya menjadi bualan di sana- sini, kerana terbait dengan kes RASUAH, BUNUH, ROGOL, dan tak kurang juga yang sibuk memenuhi lebuh raya, merempit sana sini tak tentu hala, kononnya hendak mati di JALAN YANG LURUS.

Belum termasuk lagi kes-kes HARUAN MAKAN ANAK, pelajar SEKOLAH AGAMA buang anak, tambah lagi dengan masalah politiknya, dan bermacam- macam jenis 'penyakit' lagi, yang kini sedang menular di kalangan masyarakat kita, yang kelajuan penularannya mengalahkan penularan virus H1N1.

Aduhai manusia, aduhai bangsaku..

Mengapa kalian memilih jalan sesempit ini. maka akan dijawab mereka,

"kerana ini sudah ditakdirkan Allah"

Aduhai, mengapa kalian sanggup menghukum diri sendiri, sedang Allah telah berfirman bahawa tidak akan berubah nasib sesuatu kaum itu kecuali dengan tangan mereka sendiri.

Mengapa masih memilih untuk menjadi jahat sedang jalan untuk menjadi baik itu adalah lebih senang daripada menjadi jahat!.

Mengapa berputus asa dari rahmat Allah, sedangkan ketika 1 pintu rahmat Allah telah tertutup untuk kita, maka akan dibukakan untuk kita 99 pintu yang lain.

Subhanallah, begitu sekali sayang Allah pada kita. Begitu sekali baiknya Allah pada kita, tapi mengapa kita jadikan Allah murka atas segala perbuatan kita? dan kita berkata,

"aku dah jadi jahat, mana mungkin Allah akan menerima aku sebagai hambaNya".

Masya Allah, pernahkah kalian mendengarkan kisah tentang seseorang yang kehilangan untanya di padang pasir? seseorang yang berkenderaan di tengah-tengah padang pasir, kemudian haiwan yang ditungganginya itu lari meninggalkannya, sedangkan di atas haiwan itu terdapat bekalan makanan dan minumannnya.

Dia berputus asa untuk menemui haiwan dan bekalannya. Lalu dia duduk berteduh di bawah sebatang pohon dan berbaring, kerana dia benar-benar berputus asa untuk menemui haiwan tunggangannya itu. Kemudian dia tertidur.Sejurus dia bangun dari tidurnya, dia mencari lagi untanya itu dengan berjalan kaki namun dia tidak menjumpainya. dia berjalan lagi, namun gagal menjumpainya. Dia mencarinya untuk kali ketiga, namun usahanya itu masih gagal.

Apabila dia kembali ke tempat tidurnya sebelum itu, tatkala dia duduk termenung, tanpa diduganya, tiba-tiba unta tunggangannya yang hilang itu muncul kembali, lengkap dengan bekalan yang dibawanya. Kemudian, dia segera memegang tali tambatannya. Bayangkan kalau kita berada di tengah padang pasir yang luas dan panas yang terik, hampir berputus asa untuk mencari unta yang hilang, tetapi tiba-tiba unta itu muncul kembali di hadapan kita. Mana mungkin kita tidak gembira, gembira yang bukan kepalang..namun sahabatku, sesungguhnya, Allah s.w.t itu lebih jauh lagi gembiranya dengan taubat seorang hamba berbanding dengan musafir yang menemui untanya di padang pasir itu tadi.

Wahai sahabatku sekalian, ayuh,
bersangka baiklah dengan Allah. Sebagaimana kita gembira bertemu dengan kekasih hati, malah Allah lebih gembira daripada itu.

Sebagaimana kita menyayangi kekasih hati sepenuh jiwa, namun sayangnya Allah lebih daripada itu, betapa luasnya nikmat pemberian Allah, tapi sayang hanya kita sahaja yang tidak tahu untuk menghargai pemberiannnya.

Banggalah menjadi hamba Allah, tanamkanlah rasa cinta pada Allah dalam diri kita, kerana cinta Allah pada hambaNya sangat tidak ternilai.

Demi cinta Allah pada hambaNya, Allah telah berfirman,

" dan Dialah Tuhan yang menerima taubat daripada hamba-hambaNya yang bertaubat, serta memaafkan kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan", surah an-nisa (4:16).

Sungguh, Allah telah membukakan pintu rahmatNya di siang hari untuk menerima taubat hamba-hambaNya di waktu siang, dan membukakan pintu rahmat pada malam hari hari, untuk menerima taubat hamba-hambaNya pada malam hari.

Tapi, melihat keadaan kita pada hari ini, yang masih lagi dengan ego dan sombong yang menebal pada diri..cita-cita tinggi dijulang, mengimpi syurga Allah, namun tanpa sedar, amalan- amalan yang kita lakukan itu semakin membuatkan kita jauh dari syurgaNya, jauh dari rahmatNya..

Amatlah rugi bagi mereka yang telah diberi peringatan, tapi masih bermegah-megah dengan diri sendri, tanpa sedar apa yang kita miliki ini semuanya adalah milik Allah. Alangkah sedihnya Allah, seakan tiada siapa lagi yang memerlukanNya, seakan tiada siapa yang mahukan taubatnya diterima, seakan tiada siapa yang mahu dosanya diampunkan, dan..seakan tiada siapa yang berlumba-lumba untuk meraih cintaNya Yang Maha Pengasih, lagi Pemurah itu..